Sepp Blatter Mengundurkan Diri, EA Sports Tidak Membutuhkan FIFA Lagi

Game News - achmadfaizal - Jun 3, 2015

  1. Playtoko.com - Baru saja dipilih kembali sebagai presiden FIFA di hari Jumat lalu, Sepp Blatter memutuskan untuk mengundurkan diri hari ini. Bagaimana nasib video game FIFA kedepannya? Apakah EA Sports masih membutuhkan FIFA?

    [​IMG]

    Dilansir oleh Polygon, diterjemahkan dan disadur seperlunya


    EA Sports telah lama berbisbis dengan NCAA, NFL, dan FIFA sejak pertengahan 1990-an silam, mengindari berbagai cipratan buruk dari kelakuan buruk yang mereka lakukan ataupun memutuskan hubungan dengan mereka. EA memang, bagaimanapun juga, dahulu merupakan satu dari sekian merk besar yang tidak memutuskan hubungannya dengan Tiger Woods ketika atlet golf tersebut menjadi pusat perhatian dari sebuah skandal memalukan yang melibatkan perselingkuhan dalam pernikahan dan kecanduan seks lima tahun lalu.

    Namun kontroversi apapun yang ditimbulkan pemberi lisensi EA Sports sejak masih dalam era konsol 16-bit, tidak ada yang menghasilkan tuduhan yang biasanya persidangan umum. Beberapa hari yang lalu pemerintah Swiss menahan tujuh pejabat FIFA dalam kasus pemerasan dan money laundry atas permintaan Departemen Keadilan Amerika Serikat, menegaskan yuridiksi dalam undang-undang yang digunakan untuk menuntut teroris yang menggunakan bank Amerika untuk aktivitas mereka.

    Kasus tersebut bepusat pada pemutusan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah World Cup untuk tahun 2018 dan 2022 – dalam penyuapan yang terselubung. Tuduhan penyuapan tersebut tidak mengherankan. Gugatan penyuapan voting tersebut sangat erat kaitannya dengan pengumuman pada Desember 2010 silam yang menghasilkan kedua nama negara tersebut untuk turnamen selanjutnya.

    Setelah FIFA secara retroaktif menutupi dan menyegel sebuah laporan independen yang mereka kuasakan pada perihal ini – bahkan juga turut menyalahkan Asosiasi Sepak bola Inggris – orang-orang yang paling masuk akal menyerahkan harapan pada siapa saja di dalam rezim dapat dipertanggungjawabkan. Maka sekarang adalah pembalasan yang tepat bagi FIFA dan mantan presidennya, Sepp Blatter, yang 17 tahun telah mengawasi tuduhan, dari perdagangan suara kecil-kecilan menjadi pengaturan hasil pertandingan langsung, yang tentunya akan dianggap membahayakan bagi kredibilitas liga mana saja atau keberlanjutan operasi bagi para fans olahraga di seluruh dunia.


    Hal ini justru konyol. FIFA sesungguhnya bukanlah sebua liga, bahkan walaupun namanya ada di dalam video game seperti NFL, NBA, ataupun NHL. Mereka hanyalah birokrasi, sebuah badan yang menyelenggarakan sebuah turnamen setiap empat tahun sekali di kalangan tim nasional seluruh dunia, bukan untuk klub professional. Kecuali di tahun-tahun World Cup, kehadiran FIFA hampir tidak se-relevan dengan video game sepak bola EA Sports seperti NCAA dengan video game football EA yang sudah mati.

    Wajar saja jika kita lihat bagaimana hubungan antara EA dengan FIFA selama 23 tahun ini terutama pada perkembangan terbarunya. Dan rasanya juga wajar saja jika kita pertanyakan hal apa yang akan didapatkan EA dari kepemimpinan FIFA yang menyeret seperti mafia dan teroris jika hubungan di antara keduanya terus berlanjut.

    Korupsi tingkat tinggi FIFA, dan laporan yang masih berlanjut seputar kerja paksa yang digunakan untuk membangun istana olahraga yang mewah di tengah gurun Arab atas namanya, tentunya tidak membuat organisasi tersebut menawan bagi para perusahaan multinasional yang sadar imej sebagaimana FIFA butuhkan untuk mendompang perhelatannya. Tidak lebih dari Sony yang baru saja menyisihkan $227 juta untuk mmebubuhkan nama PlayStation di tengah-tengah perhelatan akbar FIFA. Sony dengan sopan mengutip kenaikan biaya sponsor sebagai alasannya, tapi rekan-rekan global lainnya juga telah berbuat demikian pula. Merk FIFA memang tidak diragukan lagi beracun.

    [​IMG]
    PES 2015 tidak perlu khawatir meski tanpa berlisensi FIFA

    Namun Pro Evolution Soccer – berasumsi Konami masih berkenan untuk menciptakan video game – masih baik-baik saja tanpa lisensi FIFA. Video game-nya tahun ini yang jauh lebih baik daripada FIFA 15, dan PES masih menjadi video game sepak bola yang dominan di sepanjang kehidupan PlayStation 2, dan menjadi game konsol terlaris di sepanjang sejarah. EA Sports menyusul PES karena EA Sports cukup serius dalam ambisi mengalahkan PES, bukan karena mereka tiba-tiba memperoleh kredibilitas FIFA. FIFA telah menjadi partner eksklusif EA Sports sejak tahun 1993 silam.

    Siapa yang tahu apa yang EA bayarkan pada FIFA hari ini, tapi tiga dari empat tahun apa yang mereka bayarkan, kebanyakan, adalah marketing, sebuah nama yang menyampaikan kewenangan pada badan olahraga tertinggi. Mungkin EA memang membutuhkan FIFA di tahun 2005, namun hari ini EA Sports tidak lagi membutuhkan nama FIFA untuk menciptakan video game sepak bola yang menarik, yang berisikan tim dan bintang top professional dunia.

    [​IMG]
    Pidato pengunduran Sepp Blatter dengan bahasa Perancis

    EA sepatutnya dapat melihat hubungan kerjasama ini seperti barang yang rusak sekarang. Nampak jelas bahwa nantinya akan semakin memburuk. Sepp Blatter, yang akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari FIFA, mengumumkan keputusannya tersebut di Zurich, Swiss, hari ini. Dengan kekuasaan tertinggi komite Eksekutif di FIFA saat ini sebenarnya juga tidak akan berpengaruh banyak bagi EA Sports, malah mungkin saja merusak citra FIFA 15 dan video game sepak bola besutannya yang lain.

    Pada akhirnya, hal inilah yang harus dihadapi Electronic Arts. Jika adil rasanya untuk menyalahkan MDonald’s, Coca Cola, atau Nike karena telah mensponsori organisasi yang telah menjual World Cup kepada para kleptokrat Rusia dan raja budak Qatar, maka adil juga untuk melilitkan EA – yang memang pada dasarnya membuat produk atas nama FIFA. Beginilah bagaimana caranya branding bekerja. Jika kamu membeli sebuah pamor organisasi, maka kamu juga membeli aibnya. Begitu juga dengan para pelangganmu.

    Baca juga:


    fifa, fifa 15, ea, ea sports, pro evolution soccer, pes 2015, pes, konami, sports, sepak bola, world cup, opini

Share This Page